
Sesungguhnya bukan tanpa alasan Allah menjadikan Hawa untuk Adam yang kesepian. Demikian juga hal itu telah dfitrahkan untuk anak keturunannya hingga akhir zaman.
Kebutuhan akan pasangan memang
tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan anak Adam. Berbagai
cara diupayakan untuk mencari pasangan yang sesuai dengan harapan.
Bahkan terkadang cara yang ilegal pun diterjang untuk dilakukan. Kendati
jodoh dan rezeki telah diatur oleh Allah semenjak manusia belum
diciptakan.
Banyak orang yang menginginkan pasangan ideal sebagai teman dalam bahtera saat mengarungi lautan rumah tangga. Harus ini, harus itu, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, kerap dipikirkan saat akan mencari calon pendamping hidup. Banyak hal yang dijadikan pertimbangan. Memang tidak sepenuhnya salah, tapi hendaknya kita juga harus tahu, bahwa tidak ada manusia yang sempurna dalam segala sisi, alias pasti ada cacatnya. Tak jarang pula yang gara-gara memikirkan berbagai aspek penilaian terhadap calon pasangan akhirnya menyesal pula karena akan telat mendapat jodoh. Dan ujung-ujungnya juga, biasanya jodoh yang tidak sesuai dengan kriteria sebelumnya.
Saya jadi teringat teman-teman atau kenalan para ikhwan yang disebut-sebut sebagai orang-orang yang gampang nazhar. Saking seringnya nazhar sampai namanya menjadi tekenal di kalangan para akhwat. Bukan karena nama baiknya yang menjadi terkenal, tapi dikenal supaya dijauhi oleh para akhwat yang akan dinazhar. “Eh, Mbak, si Ikhwan yang itu ya, yang mau nazhar? Hati-hati ya..” demikian nasihat seorang akhwat kepada saudarinya.
Jadi, yang sewajarnya saja ketika akan mencari pasangan hidup. Memang benar, mencari kalau bisa yang sekali untuk selamanya. Namun, tidak juga harus dengan mematok kriteria setinggi langit sampai menembus limit ideal sehingga mengorbankan segalanya. Termasuk dengan menjadikan syariat nazhar sebagai hobi semata.
Banyak orang yang menginginkan pasangan ideal sebagai teman dalam bahtera saat mengarungi lautan rumah tangga. Harus ini, harus itu, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, kerap dipikirkan saat akan mencari calon pendamping hidup. Banyak hal yang dijadikan pertimbangan. Memang tidak sepenuhnya salah, tapi hendaknya kita juga harus tahu, bahwa tidak ada manusia yang sempurna dalam segala sisi, alias pasti ada cacatnya. Tak jarang pula yang gara-gara memikirkan berbagai aspek penilaian terhadap calon pasangan akhirnya menyesal pula karena akan telat mendapat jodoh. Dan ujung-ujungnya juga, biasanya jodoh yang tidak sesuai dengan kriteria sebelumnya.
Saya jadi teringat teman-teman atau kenalan para ikhwan yang disebut-sebut sebagai orang-orang yang gampang nazhar. Saking seringnya nazhar sampai namanya menjadi tekenal di kalangan para akhwat. Bukan karena nama baiknya yang menjadi terkenal, tapi dikenal supaya dijauhi oleh para akhwat yang akan dinazhar. “Eh, Mbak, si Ikhwan yang itu ya, yang mau nazhar? Hati-hati ya..” demikian nasihat seorang akhwat kepada saudarinya.
Jadi, yang sewajarnya saja ketika akan mencari pasangan hidup. Memang benar, mencari kalau bisa yang sekali untuk selamanya. Namun, tidak juga harus dengan mematok kriteria setinggi langit sampai menembus limit ideal sehingga mengorbankan segalanya. Termasuk dengan menjadikan syariat nazhar sebagai hobi semata.
Walhasil, pilah-pilih itu sebenarnya boleh, tapi ya
yang sewajarnya saja, dan jangan mempersulit. Lagipula bukankah Rasulullah n\
sudah berpesan dalam hadits riwayat Muslim (2670):
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ . قَالَهَا ثَلَاثًا
“Celaka orang yang berlebih-lebihan.” (Beliau ucapkan tiga kali)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar