Kesedihan
mendalam, kebahagiaan,
rasa haru dan tangis memang tak pernah lepas dalam setiap lembar kisah kehidupan
manusia. Ada yang menangis dan sedih
karena ditinggal seorang yang amat dicintai dan kasihi. Ada lagi yang bersedih
ketika tidak bisa menggapai asa dan citanya. Ada juga yang menangis karena tak
kuasa menahan himpitan hidup. Pun ada yang berbahagia hingga membuatnya tenggelam dalam tangis haru. Semua orang pasti pernah
menitikkan air mata, walau mungkin setiap orang juga memiliki alasan yang
berbeda.
Ada
bermacam-macam orang yang mengartikan makna dari sebuah tangisan. Ada yang
berpendapat tangisan adalah sebuah tanda bagi jiwa yang lemah. Ada lagi yang
mengatakan bahwa tangisan menunjukkan atas kelembutan hati. Ada juga yang
menafsirkan tangisan dengan arti lainnya. Demikianlah tangisan memiliki nilai
dan arti tersendiri. Lantas, bagaimanakah sebenarnya posisi tangisan tersebut
dalam agama Islam? Apakah seorang menjadi tercela karena banyak menangis?
Ataukah seorang menjadi tersalah karena tidak pernah menitikkan air matanya?
Hikmah dari
sebuah tangisan
Manusia adalah
makhluk lemah, banyak berkeluh kesah lagi kikir terhadap nikmat yang ia punyai.
Di sisi lainnya, manusia memiliki sifat sombong dan egois. Sifat alamiahnya
merasa paling hebat dan kuat. Namun dengan hikmah Allah, Dia q\ jadikan air
mata sebagai tanda akan lemahnya kuasa manusia di hadapan kuasa Allah q\.
Dengan itu diharapkan manusia akan menyadari hakikat dirinya yang tidak berdaya,
sehingga ia tidak merasa pongah di hadapan sesama. Dengan tangisan juga manusia
dilatih untuk bisa berserah diri kepada Allah yang mengatur segala sesuatu yang
ada di jagat raya ini.
Banyak
arti tersimpan dalam air mata yang mengalir. Karena itu tidaklah sama setiap
tetesan air mata dari orang-orang yang
berbeda. Tangisan yang bersumber dari dalam hati yang tulus karena Allah tentu
berbeda nilainya dengan tangisan seorang buaya. Begitu juga tangisan dari
seorang yang takut dan rindu kepada Allah tentu berbeda nilainya dengan
tangisan seorang yang merindu kekasih hatinya. Walau dalam waktu yang sama
mereka menumpahkan air mata, namun sebab yang mendasarinya sangatlah berbeda.
Yazid bin
Maisarah v\ berkata, “Tangisan itu disebabkan karena tujuh hal: karena bahagia,
gila, sakit, gundah, ingin dipuji manusia (riya’), mabuk serta tangisan karena
Allah. Dan (yang terakhir) itulah
sebuah tetesan tangis yang dapat memadamkan semisal lautan api neraka.”[1]
Karena
itulah nilai sebuah tangisan di sisi Allah juga tidak sama. Tangisan yang
paling bernilai di sisi-Nya ialah yang tumpah karena takut akan kuasa-Nya,
rindu untuk bertemu dengan-Nya dan yang mengalir karena mengingat
kesalahan-kesalahan yang telah ia
lakukan.
Dalam
riset terbaru para ahli menyebutkan,
bahwa salah satu manfaat menangis adalah untuk menenangkan emosi yang tengah
bergejolak, menghilangkan hormon stres yang menumpuk pada tubuh dan menenangkan
jiwa.
Menangis
adalah tanda lembutnya hati dan rasa kasih sayang
Seorang
muslim yang tangguh tidak menafikan bahwa ia harus menjadi seorang yang tidak
bisa menangis dalam setiap keadaan. Sebab generasi sahabat yang dipimpin
langsung oleh Rasulullah adalah orang-orang yang paling tangguh dalam
menghadapi cobaan. Namun mereka juga adalah orang yang mudah tersentuh
perasaannya dan meneteskan air mata.
Ibnul
Qayyim v\ mengatakan, “Dan manakala mata sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air
mata karena takut kepada Allah, maka ketahuilah bahwa mengeringnya mata
tersebut dikarenakan kerasnya hati seorang hamba. Dan hati yang paling jauh
dari Allah adalah hati yang keras.”[2]
Ketika
putra Rasulullah n\ yang bernama Ibrahim meninggal dunia, maka Rasulullah menangis. Saat itu Abdur-Rahman bin Auf bertanya kepada Rasulullah, “Apakah
engkau juga menangis?” Maka beliau mengatakan di hadapan para sahabatnya,
“Sesungguhnya (tangisan) itu adalah
sebuah rasa kasih. Sungguh, air mata berlinang, hati bersedih namun kita tidak
akan berkata kecuali yang Allah ridhai. Dan sesungguhnya kami dengan
kepergianmu wahai Ibrahim, sangat bersedih.”
(HR. al-Bukhari: 1303)
Abu Bakar
a\ adalah seorang sahabat yang sangat mudah menangis dan tersentuh.
Umar a\ pun demikian,
hati beliau mudah luluh. Dan hati beliau semakin lembut tatkala telah menjabat
sebagai khalifah. Demikian juga orang-orang setelah mereka; Umar bin Abdul
Aziz, Harun ar-Rasyid dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang tangguh,
namun hati mereka adalah hati yang lembut dan mudah tersentuh. Hati yang mudah
takut terhadap Allah, bukan hati yang keras.
Menangislah
hanya karena Allah q\
Tsabit
al-Bunani v\ suatu ketika pernah mengeluhkan matanya yang sakit kepada dokter.
Maka dokter tersebut mengatakan kepadanya, “Aku bisa memastikan engkau sembuh
bila engkau bisa menjamin satu hal untuk tidak engkau lakukan. Engkau tidak
menangis lagi.” Maka Tsabit mengatakan, “Tidaklah ada kebaikan bagi mata yang
tidak bisa menangis.”[3]
Saudaraku,
telah kita ketahui bahwa setiap tangisan berbeda nilainya di sisi Allah. Maka
yang paling mulia adalah tangisan karena Allah. Karenanya, mari kita simak
keutamaan-keutamaan seorang yang menangis karena Allah dalam poin-poin berikut:
1.
Seorang
yang menangis karena mengingat Allah dalam kesendiriannya termasuk dalam tujuh
golongan yang akan dinaungi oleh Allah q\ pada hari kiamat. Rasulullah n\ bersabda:
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ
ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ
اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ
مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى
حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ
خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya,
pada hari di mana tidak ada naungan lagi selain naungan-Nya: seorang pemimpin
yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang lelaki yang
hatinya terikat dengan masjid, dan dua orang yang saling mencintai karena
Allah; mereka bersama dan berpisah karena Allah, seorang yang digoda oleh
wanita bangsawan nan jelita, namun ia mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah.’ Dan
seorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya serta seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesepian, lantas berlinanglah air matanya.” (HR.
al-Bukhari: 660)
2.
Mata yang
menangis karena takut kepada Allah q\ tidak akan tersentuh panasnya api neraka.
Rasulullah n\ bersabda:
عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ ،
وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
“Dua mata yang
tidak akan tersentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena Allah dan mata
yang terjaga di malam hari untuk berjaga-jaga di jalan Allah.” (HR.
at-Tirmidzi: 1639, dishahihkan oleh al-Albani)
3.
Menangis karena mengingat keagungan Allah dan mengadukan semua permasalahan
hanya kepada-Nya adalah teladan dari orang-orang yang shalih
dari semenjak zaman dahulu. Di antara mereka adalah para Nabi dan Rasul yang
telah Allah utus. Tatkala dibacakan bagi mereka ayat-ayat Allah, bacaan itu pun
meresap ke dalam relung jiwa mereka hingga keluarlah butiran air mata mereka
karena rasa takut, rindu, cinta dan mengagungkan Allah q\. Allah menyebutkan
perihal ini dalam QS. Maryam: 58.[4]
4.
Orang yang
menangisi kesalahannya dan menyesalinya, dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan
pohon Thuba[5]
di surga. Tsauban a\ meriwayatkan dari
Rasulullah n\ bahwa beliau berkata, “Pohon Thuba (keberuntungan), bagi orang
yang bisa menahan lisannya, cukup dengan rumahnya dan menangisi kesalahannya.”
(HR. ath-Thabrani dalam al-Ausath dan yang lainnya, dihasankan oleh al-Albani
dalam Shahih al-Jami’: 3929 dan Shahihut Targhib: 2740)
[4] Baca juga kisah Nabi Ya’qub p\ yang mengadukan semua kesedihannya hanya
kepada Allah q\ dalam surat Yusuf: 86.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar