Sabtu, 22 Juni 2013

Keutamaan Menangis karena Allah -azza wa jalla-




            Kesedihan mendalam, kebahagiaan, rasa haru dan tangis memang tak pernah lepas dalam setiap lembar kisah kehidupan manusia.  Ada yang menangis dan sedih karena ditinggal seorang yang amat dicintai dan kasihi. Ada lagi yang bersedih ketika tidak bisa menggapai asa dan citanya. Ada juga yang menangis karena tak kuasa menahan himpitan hidup. Pun ada yang berbahagia hingga membuatnya tenggelam dalam tangis haru. Semua orang pasti pernah menitikkan air mata, walau mungkin setiap orang juga memiliki alasan yang berbeda.
            Ada bermacam-macam orang yang mengartikan makna dari sebuah tangisan. Ada yang berpendapat tangisan adalah sebuah tanda bagi jiwa yang lemah. Ada lagi yang mengatakan bahwa tangisan menunjukkan atas kelembutan hati. Ada juga yang menafsirkan tangisan dengan arti lainnya. Demikianlah tangisan memiliki nilai dan arti tersendiri. Lantas, bagaimanakah sebenarnya posisi tangisan tersebut dalam agama Islam? Apakah seorang menjadi tercela karena banyak menangis? Ataukah seorang menjadi tersalah karena tidak pernah menitikkan air matanya?

Hikmah dari sebuah tangisan
            Manusia adalah makhluk lemah, banyak berkeluh kesah lagi kikir terhadap nikmat yang ia punyai. Di sisi lainnya, manusia memiliki sifat sombong dan egois. Sifat alamiahnya merasa paling hebat dan kuat. Namun dengan hikmah Allah, Dia q\ jadikan air mata sebagai tanda akan lemahnya kuasa manusia di hadapan kuasa Allah q\. Dengan itu diharapkan manusia akan menyadari hakikat dirinya yang tidak berdaya, sehingga ia tidak merasa pongah di hadapan sesama. Dengan tangisan juga manusia dilatih untuk bisa berserah diri kepada Allah yang mengatur segala sesuatu yang ada di jagat raya ini.
Banyak arti tersimpan dalam air mata yang mengalir. Karena itu tidaklah sama setiap tetesan air mata dari orang-orang  yang berbeda. Tangisan yang bersumber dari dalam hati yang tulus karena Allah tentu berbeda nilainya dengan tangisan seorang buaya. Begitu juga tangisan dari seorang yang takut dan rindu kepada Allah tentu berbeda nilainya dengan tangisan seorang yang merindu kekasih hatinya. Walau dalam waktu yang sama mereka menumpahkan air mata, namun sebab yang mendasarinya sangatlah berbeda.
Yazid bin Maisarah v\ berkata, “Tangisan itu disebabkan karena tujuh hal: karena bahagia, gila, sakit, gundah, ingin dipuji manusia (riya’), mabuk serta tangisan karena Allah. Dan (yang terakhir) itulah sebuah tetesan tangis yang dapat memadamkan semisal lautan api neraka.”[1]
            Karena itulah nilai sebuah tangisan di sisi Allah juga tidak sama. Tangisan yang paling bernilai di sisi-Nya ialah yang tumpah karena takut akan kuasa-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya dan yang mengalir karena mengingat kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.  
            Dalam riset terbaru para ahli menyebutkan, bahwa salah satu manfaat menangis adalah untuk menenangkan emosi yang tengah bergejolak, menghilangkan hormon stres yang menumpuk pada tubuh dan menenangkan jiwa.

Menangis adalah tanda lembutnya hati dan rasa kasih sayang
            Seorang muslim yang tangguh tidak menafikan bahwa ia harus menjadi seorang yang tidak bisa menangis dalam setiap keadaan. Sebab generasi sahabat yang dipimpin langsung oleh Rasulullah adalah orang-orang yang paling tangguh dalam menghadapi cobaan. Namun mereka juga adalah orang yang mudah tersentuh perasaannya dan meneteskan air mata.
      Ibnul Qayyim v\ mengatakan, “Dan manakala mata sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah, maka ketahuilah bahwa mengeringnya mata tersebut dikarenakan kerasnya hati seorang hamba. Dan hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”[2]
            Ketika putra Rasulullah n\ yang bernama Ibrahim meninggal dunia, maka Rasulullah menangis. Saat itu Abdur-Rahman bin Auf bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau juga menangis?” Maka beliau mengatakan di hadapan para sahabatnya,
Sesungguhnya (tangisan) itu  adalah sebuah rasa kasih. Sungguh, air mata berlinang, hati bersedih namun kita tidak akan berkata kecuali yang Allah ridhai. Dan sesungguhnya kami dengan kepergianmu wahai Ibrahim, sangat bersedih.” (HR. al-Bukhari: 1303)
Abu Bakar a\ adalah seorang sahabat yang sangat mudah menangis dan tersentuh. Umar a\ pun demikian, hati beliau mudah luluh. Dan hati beliau semakin lembut tatkala telah menjabat sebagai khalifah. Demikian juga orang-orang setelah mereka; Umar bin Abdul Aziz, Harun ar-Rasyid dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang tangguh, namun hati mereka adalah hati yang lembut dan mudah tersentuh. Hati yang mudah takut terhadap Allah, bukan hati yang keras.

Menangislah hanya karena Allah q\
            Tsabit al-Bunani v\ suatu ketika pernah mengeluhkan matanya yang sakit kepada dokter. Maka dokter tersebut mengatakan kepadanya, “Aku bisa memastikan engkau sembuh bila engkau bisa menjamin satu hal untuk tidak engkau lakukan. Engkau tidak menangis lagi.” Maka Tsabit mengatakan, “Tidaklah ada kebaikan bagi mata yang tidak bisa menangis.”[3]
Saudaraku, telah kita ketahui bahwa setiap tangisan berbeda nilainya di sisi Allah. Maka yang paling mulia adalah tangisan karena Allah. Karenanya, mari kita simak keutamaan-keutamaan seorang yang menangis karena Allah dalam poin-poin berikut:
1.      Seorang yang menangis karena mengingat Allah dalam kesendiriannya termasuk dalam tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah q\ pada hari kiamat. Rasulullah n\ bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya, pada hari di mana tidak ada naungan lagi selain naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang lelaki yang hatinya terikat dengan masjid, dan dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bersama dan berpisah karena Allah, seorang yang digoda oleh wanita bangsawan nan jelita, namun ia mengatakan, ‘Aku takut kepada Allah.’ Dan seorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya serta seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesepian, lantas berlinanglah air matanya.” (HR. al-Bukhari: 660)
2.    
          Mata yang menangis karena takut kepada Allah q\ tidak akan tersentuh panasnya api neraka. Rasulullah n\ bersabda:

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena Allah dan mata yang terjaga di malam hari untuk berjaga-jaga di jalan Allah.” (HR. at-Tirmidzi: 1639, dishahihkan oleh al-Albani)

3.      Menangis karena mengingat keagungan Allah dan mengadukan semua permasalahan hanya kepada-Nya  adalah teladan dari orang-orang yang shalih dari semenjak zaman dahulu. Di antara mereka adalah para Nabi dan Rasul yang telah Allah utus. Tatkala dibacakan bagi mereka ayat-ayat Allah, bacaan itu pun meresap ke dalam relung jiwa mereka hingga keluarlah butiran air mata mereka karena rasa takut, rindu, cinta dan mengagungkan Allah q\. Allah menyebutkan perihal ini dalam QS. Maryam: 58.[4]
4.      Orang yang menangisi kesalahannya dan menyesalinya, dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan pohon Thuba[5] di surga. Tsauban a\ meriwayatkan dari Rasulullah n\ bahwa beliau berkata, “Pohon Thuba (keberuntungan), bagi orang yang bisa menahan lisannya, cukup dengan rumahnya dan menangisi kesalahannya.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausath dan yang lainnya, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 3929 dan Shahihut Targhib: 2740)

           


[1] Mukhtashar Qiyamil Lail 1/146, Ahmad bin Ali al-Maqrizi – Syamilah.
[2] Bada’i’ul Fawa’id 3/1200.
[3] Mukhtashar Qiyamil Lail 1/146 (Syamilah).
[4] Baca juga kisah Nabi Ya’qub p\ yang mengadukan semua kesedihannya hanya kepada Allah q\ dalam surat Yusuf: 86.
[5] Pohon Thuba adalah pohon di surga yang ditanam sendiri oleh Allah q\.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar