Saudaraku, salah
satu penyebab utama kerusakan kalbu yang menimpa banyak orang sehingga mereka
terjerumus ke dalam kubangan dosa dan maksiat adalah karena jauhnya mereka dari
mengingat dan menghayati kematian yang menanti di depan mereka. Padahal ulama dahulu pernah berkata,
كَفَى
بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
“Cukuplah kematian sebagai
pemberi nasihat.” (Shifah ash-Shafwah I/639. Adapun hadits Nabi n\ dengan
lafal dimaksud, maka tidak valid)
Rabī` Ibn Abī Rāsyid berkata,
لَوْ فَارَقَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلْبِيْ
سَاعَةً لَخَشِيْتُ أَنْ يَفْسدَ عَلَيَّ قَلْبِيْ
Seorang wanita pernah mendatangi Āisyah untuk mengeluhkan
tentang kekerasan kalbu. `Āisyah berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian,
niscaya kalbu itu akan menjadi lembut (baik)”
Dikisahkan bahwa ar-Rabī` bin Khutsaim menggali
kuburan di tempat tinggalnya dan tidur di dalamnya beberapa kali dalam sehari,
agar selalu mengingat kematian.Saudaraku, belum tibakah saatnya kita mengingat penghancur kelezatan dan pemutus segala kenikmatan yang sangat ditakuti oleh para penguasa dan orang-orang besar dari zaman dahulu hingga kelak di akhir zaman? Apakah yang sudah kita persiapkan untuk menyambut tamu tak diundang tesebut, Saudaraku....??
Ya Allah... selamatkanlah kami dari buruknya su'ul khatimah.
Ya Allah..... jauhkanlah kami dari kejelekan akhlak dan perbuatan zalim.
Ya Allah ..... berilah taufik kepada kami untuk senantiasa tegar di atas jalan-Mu dan dalam syariat-Mu. amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar