Fatimah adalah saudari
Umar bin Kaththab. Seorang wanita terhormat dari kabilah Quraisy. Sedangkan
suaminya dalah Sa’id bin Zaid bin Amru, saru dari sepuluh sahabat yang
dijanjikan oleh Rasulullah pasti masuk surga.
Golongan pertama yang beriman dan berbai’at kepada
Rasulullah -shalallahu 'alaihi wasallam-
Fatimah binti Khaththab termasuk para
wanita yang pertama kali beriman terhadap ajaran Islam di Makkah. Bahkan
keislamannya lebih dahulu daripada suaminya, Sa’id bin Zaid. Tapi, tahukah
kalian? Ternyata perjalanan Fatimah dalam menjaga dan memperjuangkan keislamanannya
sangatlah sulit.
Saat pertama kali dakwah Rasulullah
dimulai di kota Makkah, banyak kaum Quraisy yang memusuhi dengan
terang-terangan. Bahkan, korban salah satu kerusuhan yang terjadi adalah Abu
Bakar sendiri. Bila yang menjadi korban adalah seorang budak semisal Bilal bin
Rabah atau Ammar bin Yasir dan yang semisal mereka berdua tentu menjadi hal
yang mungkin dianggap biasa. Karena Bilal, Ammar dan orang semisal mereka tidak
memiliki keluarga yang melindungi, lagipula mereka hanya seorang budak.
Tapi kali itu lain. Abu Bakar yang
menjadi korban pengeroyokan orang-orang Quraisy. Banyak yang menyangka bahwa
Abu Bakar saat itu sudah tak bernyawa saat dibawa pulang. Namun, ternyata
beliau masih hidup. Saat Abu Bakar siuman, hal yang pertama kali beliau
tanyakan kepada ibunya adalah tentang Rasulullah, “Apa yang dilakukan oleh
Rasulullah sekarang?” Ibunya menjawab tidak tahu. Maka Abu Bakar teringat
dengan teman seperjuangannya yang bernama Fatimah binti Khaththab. Ia percaya
Fatimah mengetahui di mana Rasulullah saat itu berada. Ibunda Abu Bakar pergi
ke rumah Fatimah seraya bertanya perihal Rasulullah. Tapi Fatimah enggan
menjawab karena takut terjadi apa-apa dengan Rasulullah. Fatimah pun menawarkan
untuk bertemu dengan Abu Bakar sendiri. Pergilah mereka berdua menemui Abu
Bakar.
Saat Fatimah melihat keadaan Abu Bakar
yang terluka parah, dirinya sangat sedih dan berteriak kaget. “Sesungguhnya
orang yang melakukan ini kepadamu adalah orang-orang kafir dan jahat. Dan aku
berharap kepada Allah agar membalaskan perbuatan mereka terhadapmu”, kata
Fatimah. Namun Abu Bakar tetap bertanya, “Di manakah Rasulullah?” Fatimah
khawatir bila mengatakan keberadaan Rasulullah akan didengar oleh ibunda Abu
Bakar dan akan menyebarkannya kepada orang-orang Quraisy. Abu Bakar pun
meyakinkannya bahwa ibunya bisa dipercaya. Maka Fatimah mengatakan, “Jangan
khawatir, Rasulullah selamat dan sehat.” “Di manakah beliau sekarang?” tanya Abu
Bakar lagi. “Beliau berada di rumah al-Arqam bin Abil Arqam”, jawab Fatimah. “Aku
berjanji kepada Allah, bahwa aku tidak akan makan ataupun minum sehingga aku
bertemu dengan Rasulullah”, kata Abu Bakar.
Fatimah binti Khaththab mengetahui
bagaimana khawatirnya Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah, sebagaimana
dirinya juga khawatir. Tapi, keadaan belum memungkinkan untuk mengantarkan Abu
Bakar menemui Rasulullah di rumah al-Arqam. Fatimah pun menahan Abu Bakar
sementara, menunggu keadaan aman. Maka setelah keadaan menjadi agak tenang,
Fatimah dan ibunda Abu Bakar mengantarkannya ke rumah al-Arqam dengan hati-hati
untuk menemui Rasulullah.
Demikianlah perjuangan Fatimah
menyembunyikan keislamannya saat orang-orang kafir Quraisy berusaha melenyapkan
siapa saja yang masih beriman terhadap ajaran Nabi Muhammad n\. Seandainya
keimaman Fatimah tidak kuat, ia tentu akan kembali murtad dan membiarkan Abu
Bakar menderita sendiri di rumahnya, dan tidak pernah mengantarkannya ke rumah
al-Arqam a\. Bisa saja saat Fatimah mengantarkan Abu Bakar ke rumah al-Arqam
orang-orang Quraisy menangkapnya, atau bahkan kakaknya sendiri, Umar yang akan
membunuhnya. Tapi, Fatimah memang sangat yakin dengan janji Allah yang akan memenangkan
golongan yang beriman kepada-Nya dan melindungi mereka dari mara bahaya.
Fatimah mengislamkan Umar bin Khaththab
Tidak akan pernah ada yang
menyangka bahwa Umar bin Khaththab luluh hatinya terhadap Islam karena seorang Fatimah!
Hal itu berarti saat Umar berhasil menjadi khalifah dan memperluas daerah
kekuasaan Islam serta berhasil mengislamkan orang-orang Persia dan Romawi,
Fatimah binti Khaththab secara tidak langsung ikut mendapatkan pahala. Karena
melalui tangannya Allah q\ memberikan hidayah kepada Umar.
Kisahnya, saat Umar sangat
berniat untuk membunuh Rasulullah, tiba-tiba di jalan ia bertemu dengan Nu’aim
bin Abdillah. Nu’aim pun merasa heran dengan Umar, mengapa ingin membunuh Rasulullah,
padahal keluarganya sendiri sudah ada yang masuk Islam? Maka Umar yang sudah
membawa pedang, seketika itu berbalik arah menuju rumah Fatimah dan suaminya, Sa’id
bin Zaid.
Di rumah Fatimah ada Sa’id
bin Zaid dan Khabab bin al-Art yang tengah membaca surat Thaha. Ketika mereka
semua mendengar derap kaki dari luar, segera mereka hentikan bacaan itu. Dan
ternyata, orang yang ada di luar adalah Umar!
Tapi, sebelum masuk rumah, Umar sempat mendengarkan
surat Thaha yang dibacakan di dalam rumah oleh Fatimah. Walau awalnya Umar
tetap berniat untuk menghabisi Fatimah dan keluarganya, tapi bacaan surat Thaha
telah membuatnya merasakan keindahan dan kebenaran Islam. Saat itu Umar
berkata, “Apakah dari keindahan ini orang-orang Quraisy lari?! Di manakah
Muhammad?” Fatimah mengatakan, “Tapi, kau harus berjanji demi Allah. Kau tidak
boleh sampai mengeluarkan kata-kata kasar kepada beliau?” Umar pun menyanggupi.
Kemudian Khabab, Fatimah dan Sa’id membawa Umar menemui Rasulullah di rumah
al-Arqam untuk bersyahadat, tanda masuk Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar