Selasa, 03 Desember 2013

Kepergian Rasulullah menggoreskan kesedihan mendalam[1]




                Saat datang Rabi’ul Awal, banyak orang yang merayakan maulid. Namun tak banyak dijumpai orang-orang yang mengingat bahwa hari itu pula kematian Rasulullah. Terlebih mengingat wasiat-wasiat perpisahan beliau sebelum menuju ke ribaan-Nya. Padahal, bila kecintaan kita terhadap beliau adalah tulus, niscaya kita akan selalu mengingat apa yang telah beliau wasiatkan.

Dari sini kisah itu dimulai
                Tahun pertama hijriah. Kota Madinah yang telah lama gersang mendadak tersenyum simpul. Semua yang ada di dalam kota berseri menyambut kedatangan seorang yang mulia. Pohon-pohon, bebatuan, arakan awan dan para penduduknya. Semua berbahagia dengan kedatangan tamu agung dari kota Makkah yang suci.[2] Rasulullah Muhammad.
                Madinah pun mendapat julukan baru, menjadi “Thaybah” (yang baik) semenjak itu. Suka, duka, pahit getir perjuangan mempertahankan agama serta beratnya menjaga keimanan telah Rasulullah dan para sahabat lalui dengan tabah. Sembari menyebarkan Islam ke penjuru jazirah Arab pasca Perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat dengan sangat yakin dan sabar menanti janji Allah yang akan membawakan kemenangan ke pangkuan. Hingga akhirnya, kota Makkah berhasil dibebaskan.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Hanya kurang dari satu setengah windu kebahagiaan itu harus rela dicabut lagi oleh-Nya. Berpulangnya Rasulullah ke ribaan Ilahi telah memupuskan semua kebahagiaan yang telah diukir oleh zaman itu.
                Ketika kaum muslimin mengharubiru menyambut kemenangan di depan mata pasca pembebasan Makkah, di sisi lainnya, fakta pahit harus pula mereka terima. Dengan berhasilnya kaum muslimin membebaskan Makkah dari cengkeraman jahiliah dan banyak kabilah Arab datang memeluk Islam, berarti kaum muslimin telah menang.[3] Bila demikian, tugas Rasulullah pun akan selesai. Bila tugas itu selesai, pertanda ajal Rasulullah semakin dekat.
                Suatu ketika, seusai shalat Shubuh, Rasulullah membalikkan badan ke arah jama’ah, lalu menasihati mereka. ‘Irbadh bin Sariyah  menceritakan suasana pagi itu,Suatu hari Rasulullah pernah mewasiati kami dengan wasiat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Seakan itulah nasihat orang yang akan berpisah!”[4] Betapa dalam dan pekanya hati para sahabat, sehingga dapat merasakan tanda dekatnya kepergian seorang yang selama ini mereka cintai.

Dalamnya luka kehilangan Rasulullah
Kematian Rasulullah adalah sebuah pukulan yang menghantam hebat dada-dada para sahabat. Tidak sedikit di antara mereka yang tidak percaya dengan kebenarannya. Sampaipun Umar yang seorang al-mulham (diberi ilham) kandas diterjang badai kesedihan. Ketika menemani Rasulullah dalam Haji Wada’, Umar berfirasat bahwa ajal Rasulullah semakin dekat, lantaran Islam telah sempurna menurut ayat ketiga dari surat al-Ma’idah yang barusan turun. “Wahai Rasulullah, kita sekarang berada pada fase penambahan (syariat) dalam agama kita, hingga bila agama itu telah sempurna, bukankah setelah itu hanya ada kekurangan?” tanya Umar. “Benar sekali, Umar,” jawab Rasulullah. Umar pun menangis sejadi-jadinya karena mengetahui bahwa tugas Rasulullah akan berakhir cepat.[5]
Tapi percayalah, Umarlah orang yang pertama kali mengatakan saat hari kematian Rasul, “Wahai sekalian manusia, tahanlah lisan-lisan kalian terhadap Nabi!, sesungguhnya Nabi tidaklah mati, tetapi beliau akan kembali sebagaimana Musa kembali kepada kaumnya. Wallahi, tidaklah aku sampai mendengar ada orang yang berani menyebut Rasulullah bahwa beliau telah wafat, melainkan akan aku tebas dengan pedangku ini!” Padahal ia telah berfirasat bahwa Rasulullah juga akan berpulang kepada-Nya. namun, Allah telah memilih Abu Bakar untuk menjadi satu-satunya orang yang bertahan saat semua sahabat limbung dengan kabar kematian Rasul.
Abu Bakar yang baru saja mengecup kening Rasulullah yang terakhir kalinya di rumah Aisyah harus berkhotbah kepada manusia dengan membacakan ayat 144 dari surat Ali ‘Imran, bahwa Rasul benar-benar telah tiada. Setelah Umar mendengar ayat tadi, lunglai lutut Umar menahan badannya. Ia pun pasrah bila Rasulullah memang benar-benar telah tiada.
Begitu hebat luka yang ditorehkan peristiwa ini sehingga tak bisa dibalut. Jangankan para sahabat yang merupakan manusia, bahkan Madinah menjadi gelap tatkala Rasulullah wafat.[6]

Hati manakah yang tidak pilu jika mengingat jasa-jasa beliau yang begitu melimpah? Dengan sebab beliaulah kita mengenal Islam sebagai jalan menuju surga-Nya, dengan sebab beliau, Allah berkenan mengaruniakan rahmat-Nya kepada umat ini, dan dengan sebab beliau juga Allah bersedia menangguhkan adzab-Nya atas umat ini. Jadi pantaslah bila bersedih dengan kepergian beliau, hanya saja dalam kita bersedih ini kita tetap tidak akan mengucapkan perkataan kecuali yang diridhai oleh Allah.

Wasiat Rasulullah sebelum berpisah
                Saudaraku, sebelum wafatnya, Rasulullah menyempatkan dalam saat-saat genting tersebut untuk berwasiat kepada kita selaku umat yang sangat dicintai oleh beliau. Di antara wasiat yang telah diberikan oleh Rasulullah kepada kita adalah:
1.       Agar menjaga shalat dan hamba sahaya yang dimiliki. Rasulullah bersabda, “Jagalah shalat dan hamba sahaya yang kalian miliki![7]
2.       Agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai berhala yang disembah. Ketika berkhotbah beliau melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan orang-orang shalih di antara mereka sebagai tempat beribadah. Beliau juga berdoa, “Ya Allah, janganlah jadikan kuburanku ini sebagai berhala yang disembah.”[8]
3.       Agar taat kepada pemimpin, walau seorang yang dianggap rendah.[9]
4.       Wasiat Rasulullah untuk orang Anshar, agar memaafkan dan berbuat baik kepada mereka karena telah berkorban sangat banyak demi Islam.
5.       Wasiat agar tidak mengubah-ubah tatanan agama lagi, sebagaimana yang tertera dalam lanjutan hadits ‘Irbadh bin Sariyah.
Epilog
                Saudaraku, banyak kegembiraan menghiasi Rabi’ul Awal karena mengingat kelahiran Rasul yang agung. Namun, sedikit sekali yang bersedih dan mengingat wasiat-wasiat perpisahan yang telah beliau tuturkan sebelum berpulang.
                Saudaraku, bila dahulu para sahabat berselisih, mereka kembalikan kepada Rasulullah dan masalah pun selesai. Bila mereka kesulitan mereka adukan kepada Rasulullah dan kesulitan pun terpecahkan. Bila ada yang lemah semangatnya dalam beribadah, Rasulullah juga yang menjadi motivatornya. Dahulu Allah menjadikan Rasul-Nya sebagai penghubung langsung antara Dia -azza wa jalla- dan hamba-Nya. Sekarang, penghubung itu telah tiada. Kita harus berusaha sendiri menghadapi perselisihan yang tak pernah terselesaikan, menghadapi kesulitan yang terus menerus datang. Karena itulah, Rasulullah berwasiat dengan wasiat perpisahan, karena yakin bahwa umatnya kelak akan mengalami kemerosotan.
Saudaraku, mungkin inilah maksud dari sabda Rasulullah tentang musibah kematian beliau. Karena dengan kematian Nabi, terputuslah semua wahyu, manusia bekerja sendiri mencari jalan kebenaran, tidak hakim yang memutuskan lagi, tidak ada motivator yang sangat mumpuni, yang tatkala menasihati tentang surga dan neraka, seakan neraka dan surga hadir di depan mata.  
 “Jika salah satu di antara kalian tertimpa musibah, hendaknya ia membandingkan musibah yang telah ia dapat denganku (kematianku), sesungguhnya itu adalah musibah yang terbesar.[10]
                Saudaraku, mari kita jaga agama ini dengan melaksanakan wasiat Rasulullah di atas. Jangan malah kita tambahi kesedihan akan kematian Rasul dengan berbagai penyelisihan terhadap ajaran yang beliau bawa. Walau kadang langkah terseok tak kuasa menahan beban, namun semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk senantiasa meniti jalan-Nya hingga menutup mata. Amin.



[1] Tulisan ini banyak mengambil manfaat dari kitab Salwatu al-Ka’ib bi Wafat al-Habib, kar. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, ar-Rahiq al-Makhtum, kar. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, as-Sirah an-Nabawiyah, kar. Dr. Mahdi Rizqullah dan yang lainnya.
[2] Sebagaimana tertera dalam al-Bidayah wa an-Nihayah 8/158, dari jalan Ibnu Abbas.
[3] Sebagaimana tersebut dalam QS. an-Nashr.
[4] HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
[5] Salwatu al-Ka’ib: 5.
[6] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dari jalan Anas bin Malik. (al-Bidayah 8/158)
[7] HR. Ahmad 3/117 dengan sanad yang shahih, sebagaimana dalam as-Sirah an-Nabawiyah, Dr. Mahdi: 657.
[8] HR. Malik dalam al-Muwaththa’: 365.
[9] Hadits ‘Irbadh bin Sariyah.
[10] Hadits shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no: 1106.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar