Saat datang Rabi’ul Awal, banyak orang yang
merayakan maulid. Namun tak banyak dijumpai orang-orang yang mengingat bahwa hari itu pula
kematian Rasulullah. Terlebih mengingat wasiat-wasiat perpisahan beliau
sebelum menuju ke ribaan-Nya. Padahal, bila kecintaan kita terhadap beliau adalah
tulus, niscaya kita akan selalu mengingat apa yang telah beliau wasiatkan.
Dari sini kisah itu
dimulai
Tahun pertama hijriah. Kota
Madinah yang telah lama gersang mendadak tersenyum simpul. Semua yang ada di
dalam kota berseri menyambut kedatangan seorang yang mulia. Pohon-pohon, bebatuan, arakan awan dan para
penduduknya. Semua berbahagia dengan kedatangan tamu agung dari kota Makkah
yang suci.[2] Rasulullah
Muhammad.
Madinah
pun mendapat julukan baru, menjadi “Thaybah” (yang baik)
semenjak itu. Suka, duka, pahit getir perjuangan mempertahankan agama serta
beratnya menjaga keimanan telah Rasulullah dan para sahabat lalui dengan
tabah. Sembari menyebarkan Islam ke penjuru jazirah Arab pasca Perjanjian
Hudaibiyah. Para sahabat dengan sangat yakin dan sabar menanti janji Allah
yang akan membawakan kemenangan ke pangkuan. Hingga akhirnya, kota Makkah berhasil dibebaskan.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Hanya kurang dari satu setengah
windu kebahagiaan itu harus rela dicabut lagi oleh-Nya. Berpulangnya Rasulullah
ke ribaan Ilahi telah memupuskan semua kebahagiaan yang telah diukir oleh zaman
itu.
Ketika kaum muslimin
mengharubiru menyambut kemenangan di depan mata pasca pembebasan Makkah, di
sisi lainnya,
fakta pahit harus pula mereka terima. Dengan berhasilnya kaum muslimin
membebaskan Makkah dari cengkeraman jahiliah dan banyak kabilah Arab datang memeluk Islam,
berarti kaum muslimin telah menang.[3] Bila demikian,
tugas Rasulullah pun akan selesai. Bila tugas itu selesai, pertanda ajal
Rasulullah semakin dekat.
Suatu ketika, seusai shalat Shubuh, Rasulullah membalikkan
badan ke arah jama’ah, lalu menasihati mereka. ‘Irbadh
bin Sariyah menceritakan suasana pagi
itu, “Suatu hari Rasulullah pernah mewasiati kami dengan wasiat yang membuat hati
bergetar dan air mata bercucuran. Seakan itulah nasihat orang yang akan berpisah!”[4] Betapa dalam dan pekanya hati para sahabat,
sehingga dapat merasakan tanda dekatnya kepergian seorang yang selama ini
mereka cintai.
Dalamnya luka kehilangan Rasulullah
Kematian
Rasulullah adalah sebuah pukulan yang menghantam hebat dada-dada para sahabat.
Tidak sedikit di antara mereka yang tidak percaya dengan
kebenarannya. Sampaipun Umar
yang seorang al-mulham (diberi
ilham) kandas diterjang badai kesedihan. Ketika menemani Rasulullah dalam Haji
Wada’, Umar berfirasat bahwa ajal Rasulullah semakin dekat, lantaran Islam
telah sempurna menurut ayat ketiga dari surat al-Ma’idah yang barusan turun. “Wahai
Rasulullah, kita sekarang berada pada fase penambahan (syariat) dalam agama
kita, hingga bila agama itu telah sempurna, bukankah setelah itu hanya ada kekurangan?”
tanya Umar. “Benar sekali, Umar,” jawab Rasulullah. Umar pun menangis
sejadi-jadinya karena mengetahui bahwa tugas Rasulullah akan berakhir cepat.[5]
Tapi
percayalah, Umarlah orang yang pertama kali mengatakan saat hari
kematian Rasul, “Wahai
sekalian manusia, tahanlah lisan-lisan kalian terhadap Nabi!, sesungguhnya Nabi
tidaklah mati, tetapi beliau akan kembali sebagaimana Musa kembali kepada
kaumnya. Wallahi, tidaklah aku sampai mendengar ada orang yang berani menyebut
Rasulullah bahwa beliau telah wafat, melainkan akan aku tebas dengan pedangku
ini!” Padahal ia telah berfirasat bahwa Rasulullah juga akan berpulang kepada-Nya. namun,
Allah telah memilih Abu Bakar untuk menjadi satu-satunya orang yang bertahan
saat semua sahabat limbung dengan kabar kematian Rasul.
Abu Bakar
yang baru saja mengecup kening Rasulullah yang terakhir kalinya di rumah
Aisyah harus berkhotbah kepada
manusia dengan membacakan ayat 144 dari surat Ali ‘Imran, bahwa
Rasul benar-benar telah tiada. Setelah Umar mendengar ayat tadi, lunglai lutut
Umar menahan badannya. Ia pun pasrah bila Rasulullah memang benar-benar telah
tiada.
Begitu hebat
luka yang ditorehkan peristiwa
ini sehingga tak bisa dibalut. Jangankan
para sahabat yang merupakan manusia, bahkan Madinah menjadi gelap tatkala
Rasulullah wafat.[6]
Hati manakah
yang tidak pilu jika mengingat jasa-jasa beliau yang begitu melimpah? Dengan sebab
beliaulah kita mengenal Islam sebagai
jalan menuju surga-Nya,
dengan sebab beliau, Allah
berkenan mengaruniakan rahmat-Nya kepada umat ini, dan dengan sebab beliau juga Allah
bersedia menangguhkan adzab-Nya atas umat ini. Jadi pantaslah bila bersedih
dengan kepergian beliau, hanya saja dalam kita bersedih ini kita tetap tidak
akan mengucapkan perkataan kecuali yang diridhai oleh Allah.
Wasiat Rasulullah sebelum berpisah
Saudaraku,
sebelum wafatnya, Rasulullah menyempatkan dalam saat-saat genting tersebut untuk berwasiat
kepada kita selaku umat yang sangat dicintai oleh beliau. Di antara wasiat yang
telah diberikan oleh Rasulullah kepada kita adalah:
1.
Agar
menjaga shalat dan hamba sahaya yang dimiliki. Rasulullah bersabda, “Jagalah shalat dan hamba sahaya yang kalian
miliki!”[7]
2.
Agar tidak
menjadikan kuburan beliau sebagai berhala yang disembah. Ketika berkhotbah beliau melaknat Yahudi dan
Nasrani yang menjadikan kuburan orang-orang shalih di antara mereka sebagai
tempat beribadah. Beliau juga berdoa, “Ya Allah, janganlah jadikan kuburanku
ini sebagai berhala yang disembah.”[8]
3.
Agar taat kepada pemimpin, walau seorang yang dianggap rendah.[9]
4.
Wasiat Rasulullah untuk orang Anshar, agar memaafkan dan berbuat baik
kepada mereka karena telah berkorban sangat banyak demi Islam.
5.
Wasiat agar tidak mengubah-ubah tatanan agama lagi, sebagaimana yang
tertera dalam lanjutan hadits ‘Irbadh bin Sariyah.
Epilog
Saudaraku, banyak kegembiraan menghiasi Rabi’ul Awal
karena mengingat kelahiran Rasul yang agung. Namun, sedikit sekali yang
bersedih dan mengingat wasiat-wasiat perpisahan yang telah beliau tuturkan
sebelum berpulang.
Saudaraku, bila dahulu para sahabat berselisih,
mereka kembalikan kepada Rasulullah dan masalah pun selesai. Bila mereka
kesulitan mereka adukan kepada Rasulullah dan kesulitan pun terpecahkan. Bila
ada yang lemah semangatnya dalam beribadah, Rasulullah juga yang menjadi
motivatornya. Dahulu Allah menjadikan Rasul-Nya sebagai penghubung langsung
antara Dia -azza wa jalla- dan hamba-Nya. Sekarang, penghubung itu telah tiada. Kita harus
berusaha sendiri menghadapi perselisihan yang tak pernah terselesaikan,
menghadapi kesulitan yang terus menerus datang. Karena itulah, Rasulullah
berwasiat dengan wasiat perpisahan, karena yakin bahwa umatnya kelak akan
mengalami kemerosotan.
Saudaraku, mungkin inilah maksud dari sabda Rasulullah tentang musibah
kematian beliau. Karena dengan kematian Nabi, terputuslah semua wahyu, manusia
bekerja sendiri mencari jalan kebenaran, tidak hakim yang memutuskan lagi,
tidak ada motivator yang sangat mumpuni, yang tatkala menasihati tentang surga
dan neraka, seakan neraka dan surga hadir di depan mata.
“Jika
salah satu di antara kalian tertimpa musibah, hendaknya ia membandingkan
musibah yang telah ia dapat denganku (kematianku), sesungguhnya itu adalah
musibah yang terbesar.”[10]
Saudaraku, mari kita jaga agama ini dengan
melaksanakan wasiat Rasulullah di atas. Jangan malah kita tambahi kesedihan
akan kematian Rasul dengan berbagai penyelisihan terhadap ajaran yang beliau
bawa. Walau kadang langkah terseok tak kuasa menahan beban, namun semoga Allah
memberi taufiq kepada kita untuk senantiasa meniti jalan-Nya hingga menutup
mata. Amin.
[1] Tulisan ini banyak mengambil manfaat dari kitab Salwatu al-Ka’ib bi
Wafat al-Habib, kar. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, ar-Rahiq al-Makhtum,
kar. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, as-Sirah an-Nabawiyah, kar. Dr.
Mahdi Rizqullah dan yang lainnya.
[2] Sebagaimana tertera dalam al-Bidayah wa an-Nihayah 8/158, dari jalan
Ibnu Abbas.
[3] Sebagaimana tersebut dalam QS. an-Nashr.
[4] HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
[5] Salwatu al-Ka’ib: 5.
[6] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dari jalan Anas bin Malik. (al-Bidayah
8/158)
[7] HR. Ahmad 3/117 dengan sanad yang shahih, sebagaimana dalam as-Sirah an-Nabawiyah,
Dr. Mahdi: 657.
[8] HR. Malik dalam al-Muwaththa’: 365.
[9] Hadits ‘Irbadh bin Sariyah.
[10] Hadits shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no: 1106.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar