Sosok misterius yang tengah duduk menikmati temaram cahaya
lampu ruangannya. Memainkan jemari mungilnya mengikuti alunan nada tak
berirama. Sesekali ia melirik ke arah jendela yang terbuka di belakangnya. Menunggu bidadari
pujaan hati turun menemui. Melalui lubang teralis mungil bersusun rapi.
Perasaannya mengatakan bahwa sang bidadari akan segera turun
dari tempat yang tinggi. Langit? Tapi, mungkinkah ia datang dengan sosoknya
yang sesungguhnya? Berkali-kali sosok misterius itu berharap akan melihat wujud
asli sang bidadari. Namun, tak lebih bagai seekor pungguk yang merindu bulan.
Pasukan angin semakin meyakinkan hati Si Misterius akan segera datang membawa semerbak
wangi sang bidadari. Namun, gulungan malam yang pekat semakin menghitam
lantaran gumpalan mendung berarak memenuhi ufuk. Terdengar gemuruh langit yang menahan
bidadari turun ke bumi. Semua meneriakinya, “Jangan turun...!!!” Walau hanya
sekadar menemui sosok misterius yang sedari tadi menunggu kehadirannya di atas
kursi hijau. Walau barang sesaat. Walau barang sekejap.
Bidadari dilarang turun ke bumi! Langit semakin ribut dengan
suara-suaranya. Kilatan pedang penjaga langit pun berkelebat menambah cekam
suasana. Napas si misterius dihela panjang... panjang..... panjang.... dalam. Firasatnya mengatakan bidadari seperti biasanya tak diizinkan pergi.
Anak-anak angin berseliweran menambah keributan. Sampai
akhirnya,...... suasana pecah! Air mata bidadari turun menguntai, laksana butiran
mutiara pulau Gili. Jatuh berderai susul-menyusul memeluk bumi yang sedari tadi
merindu. Kaca danau perasaannya yang membeku pun pecah menahan badai rindu yang menghempasnya keras.
Semua berbahagia menikmati tangisan bidadari, kecuali Si Misterius yang masih terpaku di depan istri keduanya. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Dingin.
#Hujan_Malam_Hari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar