Menurut profil yang dibacanya di internet,
nama akun sang pujaan hati adalah Diannao Lenovo. Sapaannya
Dianna. Wah...wah..... kok kayak orang luar sih? Emang bener. Si
Do’i ternyata blasteran Amrik-China. Tapi tenang saja, dia sudah lumayan lama
tinggal di Indonesia kok, sudah lebih dari 5 tahun. Tentunya dia sudah sangat
familiar dengan hawa Indonesia yang ramah dan terkadang rese.
Janjiannya di lantai 1, cuma sampai
waktu mau Zhuhur itu Si Do’i belum kelihatan. Di mana ya kira-kira.......?? Mau
ditelepon? Jelas tidak mungkin. Hampir satu jam kami menunggu. Rasa harap
bercampur cemas semakin terlihat pada raut muka Si Ganteng, temanku. Untuk
menghilangkan rasa cemas berlebih itu, aku mengajaknya ngobrol tentang profil
sang pujaan hatinya itu sekali lagi. Di antara yang kujadikan bahan pembicaraan
adalah, apakah Si Ganteng sudah benar-benar yakin dan mantap dengan pilihannya?
Ternyata niat Si Ganteng sudah bulat dan tidak akan bergeming dari tempatnya. Sudah
sangat yakin bahkan. Ah, memang cinta itu susah dimengerti. Pantas saja Qais
bin Mulawwah menjadi sangat edan tatkala cintanya terhadap Laila tak
tersampaikan.
Waktu kami lalui bersama. Sekarang
keadaannya sudah lebih mendingan dari semula. Hanya berharap menanti kepastian
datang dari Si Do’i.
Akad
sakral sederhana dihelat
Ternyata banyak blasteran berseliweran
di Hi-Tech Mall. Wah, memang benar-benar gak nyangka. Dikira cuma satu yang
namanya blasteran Amrik-China, tak tahunya banyak sekali. Terpaksa harus
nyamperin satu persatu. Tapi ya.. harus tanggung konsekuensinya. Ternyata
memang benar, tak mudah menemukan Si Do’i yang masih semi misterius ini. Bahkan,
sampai beberapa kali salah terka terkadang. Memang, lika-liku takdir mencari
jodoh banyak kejutannya.
Setelah berkali-kali “kesasar” akhirnya
takdir baik berhembus kepada kami. Tepat
sebelum adzan Zhuhur berkumandang, kami dipertemukan dengan Si Do’i yang suppeeerrrr
aduhai. Terlihat elegan dan manis dalam
balutan gaun cokelat muda yang sangat indah. Matanya biru, menantang siapapun
yang memandang. Hampir-hampir aku “on” ketika melihat sorot matanya yang begitu
tajam. Wah..wah.... seandainya tidak ingat dengan Do’iku yang ada di rumah,
tentu blasteran itu sudah ........ Karena memang kuakui penampilannya telah
menawanku sejak pertama kali melihatnya.
Kembali lagi ke pembahasan. Kawanku
merogoh koceknya yang sudah disiapkan memang untuk melangsungkan akad kalau
toh, nanti memang cocok. Dan, gilanya lagi.... tanpa ba..bi...bu... Si Cantik
blasteran dan keluarga menyetujui saja apa yang ada di benak Si Ganteng,
temanku itu. Sampaipun akad? Mm.... mengapa tidak?! (Amazing....!!!)
Sekali lagi, percayakah Anda bahwa
saya juga yang diamanahi untuk menjadi penghulu dalam acara sakral tersebut.
Hmmm... memang walaupun tampang pas-pasan seperti ini ternyata saya masih laku
untuk menjadi apa saja. Sebagai teman yang baik, saya pun iya iya saja selama
itu bermanfaat buat orang lain.
Dan.... tanpa disadari, akad berjalan
sukses tidak ada halangan apapun. Sesekali Si Ganteng saya yakinkan untuk
melihat sorot mata biru blasteran itu, ternyata pendiriannya tetap kokoh. Memang,
itulah keajaiban cinta. Hahahaa.........
Akhirnya, mereka berdua menjadi
pasangan resmi dan sah. Dengan mahar 3,4 juta mereka sekarang sudah bisa
berpegangan, saling memandang atau menumpahkan segala yang ada di hati kepada
pasangannya. Saya sendiri masih diam termangu sejenak menikmati keindahan
suasana romantis yang memenuhi ruangan tempat berlangsungnya akad tersebut. Di
bawah pendaran lampu putih berhawa salju. Ah, mungkin aku terlalu menjiwai
sehingga khayalanku pun melambung tinggi....tinggi.....tinggi..... sampai pucuk
dahan pohon durian.
Semoga akad yang telah berlangsung
membawa keberkahan tersendiri bagi pasangan yang baru tersebut. Selamat ya...
semoga diberkahi... (Bersambung..............)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar