Selasa, 03 Desember 2013

Jodohku di THR Surabaya (bag. II)




Kejutan saat mencari jodoh
           Menurut profil yang dibacanya di internet, nama akun sang pujaan hati adalah Diannao Lenovo. Sapaannya Dianna. Wah...wah..... kok kayak orang luar sih? Emang bener. Si Do’i ternyata blasteran Amrik-China. Tapi tenang saja, dia sudah lumayan lama tinggal di Indonesia kok, sudah lebih dari 5 tahun. Tentunya dia sudah sangat familiar dengan hawa Indonesia yang ramah dan terkadang rese. 

          Janjiannya di lantai 1, cuma sampai waktu mau Zhuhur itu Si Do’i belum kelihatan. Di mana ya kira-kira.......?? Mau ditelepon? Jelas tidak mungkin. Hampir satu jam kami menunggu. Rasa harap bercampur cemas semakin terlihat pada raut muka Si Ganteng, temanku. Untuk menghilangkan rasa cemas berlebih itu, aku mengajaknya ngobrol tentang profil sang pujaan hatinya itu sekali lagi. Di antara yang kujadikan bahan pembicaraan adalah, apakah Si Ganteng sudah benar-benar yakin dan mantap dengan pilihannya? Ternyata niat Si Ganteng sudah bulat dan tidak akan bergeming dari tempatnya. Sudah sangat yakin bahkan. Ah, memang cinta itu susah dimengerti. Pantas saja Qais bin Mulawwah menjadi sangat edan tatkala cintanya terhadap Laila tak tersampaikan.
          Waktu kami lalui bersama. Sekarang keadaannya sudah lebih mendingan dari semula. Hanya berharap menanti kepastian datang dari Si Do’i.

Akad sakral sederhana dihelat
          Ternyata banyak blasteran berseliweran di Hi-Tech Mall. Wah, memang benar-benar gak nyangka. Dikira cuma satu yang namanya blasteran Amrik-China, tak tahunya banyak sekali. Terpaksa harus nyamperin satu persatu. Tapi ya.. harus tanggung konsekuensinya. Ternyata memang benar, tak mudah menemukan Si Do’i yang masih semi misterius ini. Bahkan, sampai beberapa kali salah terka terkadang. Memang, lika-liku takdir mencari jodoh banyak kejutannya.
          Setelah berkali-kali “kesasar” akhirnya takdir baik berhembus kepada kami.  Tepat sebelum adzan Zhuhur berkumandang, kami dipertemukan dengan Si Do’i yang suppeeerrrr aduhai.  Terlihat elegan dan manis dalam balutan gaun cokelat muda yang sangat indah. Matanya biru, menantang siapapun yang memandang. Hampir-hampir aku “on” ketika melihat sorot matanya yang begitu tajam. Wah..wah.... seandainya tidak ingat dengan Do’iku yang ada di rumah, tentu blasteran itu sudah ........ Karena memang kuakui penampilannya telah menawanku sejak pertama kali melihatnya.
          Kembali lagi ke pembahasan. Kawanku merogoh koceknya yang sudah disiapkan memang untuk melangsungkan akad kalau toh, nanti memang cocok. Dan, gilanya lagi.... tanpa ba..bi...bu... Si Cantik blasteran dan keluarga menyetujui saja apa yang ada di benak Si Ganteng, temanku itu. Sampaipun akad? Mm.... mengapa tidak?! (Amazing....!!!)
          Sekali lagi, percayakah Anda bahwa saya juga yang diamanahi untuk menjadi penghulu dalam acara sakral tersebut. Hmmm... memang walaupun tampang pas-pasan seperti ini ternyata saya masih laku untuk menjadi apa saja. Sebagai teman yang baik, saya pun iya iya saja selama itu bermanfaat buat orang lain.
          Dan.... tanpa disadari, akad berjalan sukses tidak ada halangan apapun. Sesekali Si Ganteng saya yakinkan untuk melihat sorot mata biru blasteran itu, ternyata pendiriannya tetap kokoh. Memang, itulah keajaiban cinta. Hahahaa.........
          Akhirnya, mereka berdua menjadi pasangan resmi dan sah. Dengan mahar 3,4 juta mereka sekarang sudah bisa berpegangan, saling memandang atau menumpahkan segala yang ada di hati kepada pasangannya. Saya sendiri masih diam termangu sejenak menikmati keindahan suasana romantis yang memenuhi ruangan tempat berlangsungnya akad tersebut. Di bawah pendaran lampu putih berhawa salju. Ah, mungkin aku terlalu menjiwai sehingga khayalanku pun melambung tinggi....tinggi.....tinggi..... sampai pucuk dahan pohon durian.
          Semoga akad yang telah berlangsung membawa keberkahan tersendiri bagi pasangan yang baru tersebut. Selamat ya... semoga diberkahi... (Bersambung..............)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar